Pages

Subscribe:

Selasa, 24 September 2013

Hikayat

by. Arief Riduan The'el-Marra facebook

ARIF RIDUAN

BAB I
PENDAHULUAN
Karya sastra melayu klasik termasuk kesastraan rakyat. Karya satra melayu klasik tidak bertarikh dan beranonim. Karya ini tertulis dalam huruf Arab. Hasil sastra melayu yang dianggap tertua sangat kental dari pengaruh Islam, misalnya Hikayat Seri Rama yang salah satu versinya menceritakan tentang Nabi Adam. Semua hasil sastra zaman peralihan berjudul Hikayat. Hikayat itu sendiri berasal dari kata Arab yang berarti cerita sastra.
Banyak nilai kehidupan atau pesan moral yang terkandung didalam karya sastra melayu klasik. Nilai-nilai tersebut tidak selalu mudah ditemukan karena tidak dikemukakan secara eksplisit atau terlihat dalam deretan kata/kalimat. Oleh karena itu, dibutuhkan pemahaman yang sangat tinggi agar dapat menemukan dan menganalisir nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra melayu klasik.

BAB II
PEMBAHASAN
A.      PENGERTIAN DAN BAHASA HIKAYAT
1.         Pengertian Hikayat
Hikayat merupakan salah satu bentuk sastra melayu lama. Hikayat berisi cerita, Undang-undang, dan silsilah yang bersifat rekaan, keagamaan, sejarah, kepahlawanan, biografi, atau gabungan sifat-sifat tersebut dengan tujuan untuk pelipur lara, membangkitkan semangat juang, atau sekedar meramaikan pesta.[1]
Hikayat adalah karya sastra lama berisi cerita sejarah maupun cerita roman fiktif. Contoh : Hikayat Hang Tuah, Hikayat Perang Palembang, Hikayat seri Satu malam, dan sebagainya.[2]
2.         Bahasa Hikayat
Bahasa dalam hikayat kadang-kadang sulit dipahami. Itu karena banyak kata dalam hikayat yang sudah tidak digunakan dalam percakapan atau tulisan sehari-hari.[3]

B.       CIRI-CIRI HIKAYAT
Adapun ciri-ciri hikayat adalah sebagai berikut.
1.         Sejarah
Penulisan tentang silsilah (asal-usul) raja-raja yang memegang kekuasaan, peristiwa-peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi di istana, nasib kerajaan selama beberapa turunan yang dicampur dengan dongeng setempat dan khayalan penulisnya.
2.         Dongeng
Cerita tentang suatu hal yang tidak pernah terjadi, dan juga tidak mungkin terjadi (khayalan belaka). Cerita khayalan ini biasanya berhubungan dengan kepercayaan kuno, keajaiban alam, atau kehidupan binatang.
3.         Cerita Pelipur Lara
Yang dipentingkan dalam kisahnya itu adalah adegan-adegan dan pemakaian kata-kata yang indah dan menarik agar dapat membawa perhatian dan pendengarannya ke alam khayal. Oleh karena itu jalan ceritanya kurang dipentingkan.
4.         Epos
Cerita pahlawan yang dapat menjadi cermin bagi suatu bangsa. Ceritanya diambil dari rakyat dahulu kala, melukiskan kehidupan seseorang yang besar jasanya dan masyhur serta penting artinya bagi sejarah zaman.
5.         Kitab
Tulisan tentang budi pekerti, terlebih-lebih budi pekerti raja-raja dan kebijaksanaan ahli-ahli pemerintah tentang hukum, adat, dan agama.[4]
6.         Bersifat Anonim (tidak diketahui nama pengarangnya)
7.         Menggunakan bahasa melayu lama
8.         Menggunakan kata penghubung seperti konon, sahibulhikayat, maka, alkisah, dan sebagainya secara berlebihan
9.         Isinya mengisahkan riwayat yang ajaib tentang putra dan putri raja.

C.       ASAL-USUL HIKAYAT
Berdasarkan asal-usulnya, hikayat dapat dibedakan menjadi lima yaitu:
1.      Hikayat asli melayu, Seperti Hikayat Si Miskin, Hikayat Raja-raja Pasai, Hikayat Hang Tuah.
2.      Hikayat yang mendapat pengaruh dari Jawa, seperti Hikayat Pani Semarang, Hikayat Naya Kusuma, dan Hikayat Prabu Anom.
3.      Hikayat yang mendapat pengaruh dari Hindia, seperti Hikayat pendawa Panca Lima, Hikayat Perang Pendawa, Pendawa Jaya, dan Hikayat Sri Rama.
4.      Hikayat yang mendapat pengaruh dari Persia, seperti hikayat Bayan Budiman, dan Hikayat Bachtiar dan Hikayat Seribu Satu Malam.
5.      Hikayat yang mendapat pengaruh Islam (Arab), seperti Hikayat Nabi Sulaiman, Hikayat Lukmanul Hakim, Hikayat Amir Hamzah, dan Hikayat Abu Hanifah.[5]

D.      ALUR, TEMA, DAN PENOKOHAN DALAM HIKAYAT
1.      Alur atau Plot
Yaitu rangkaian peristiwa yang membentuk cerita. Berdasarkan jenisnya ada tiga macam alur yaitu:
a.       Alur Maju : Cerita dikisahkan secara urut mulai tahap eksposisi hingga pemecahan soal
b.      Alur Mundur (Flashback) :Cerita dimulai dari klimaks (memuncaknya konflik), kemudian dikisahkan sebab musababnya.
c.       Alur Campuran : Dikisahkan dengan menggunakan alur maju dan alur mundur sekaligus.
2.      Tema
Yaitu pokok persoalan yang mendasari seluruh cerita. Agar dapat menemukan tema cerita, kita harus memahami rangkaian perisitiwa mulai dari awal hingga akhir.
3.      Penokohan atau karakter
Yaitu cara pengarang dalam melukiskan watak tokoh cerita. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menemukan karakter tokoh, yaitu :
a.       Melalui apa yang diperbuatnya
b.      Melalui ucapannya
c.       Melalui penggambaran fisik tokoh
d.      Melalui pikiran-pikirannya
e.       Melalui penerangan langsung [6]

E.       STRUKTUR CERITA HIKAYAT
Hikayat mempunyai struktur cerita yang berbeda dengan karya sastra melayu lain, antara lain:
a.         Dimulai dengan menceritakan asal muasal tokoh utamanya
b.         Ada beberapa hikayat yang dimulai dengan kelahiran tokohnya
c.         Semua peristiwa diceritakan secara mengagumkan berhubungan dengan kesaktian dan pengalaman-pengalaman yang penuh bahaya
d.        Beberapa hikayat dimulai dengan kata pertama syahdan, artian, alkisah, atau sebermula.
Untuk lebih jelasnya bacalah contoh penggalan hikayat Si Miskin di bawah ini.

Hikayat Si Miskin
Hatta, maka haripun petanglah. Maka si Miskin pun berjalanlah masuk ke dalam hutan, tempatnya sediakala itu. Disanalah ia tidur, maka disapunyalah daerah yang ditubuhnya tiada boleh keluar, karena darah itu sudah kering. Maka si miskin itupun tidurlah didalam hutan itu.
Setelah pagi-pagi hari, maka berkatalah si miskin kepada istrinya, “Ya, tuanku, matilah rasaku ini, sangatlah sakit rasanya tubuh ini. Maka tiadalah berdayalagi; hancurlah rasanya anggotaku ini; “. Maka ia pun tersedu-sedulah menangis, maka terlalu belas rasa hati isterinya, melihat laku suaminya demikian itu, maka iapun menangis pula seraya mengambil daun kayu, lalu di mamahnya, maka disapukannya lah seluruh tubuh suaminya, sambillah ia berkata, “Diamlah tuan jangan menangis !”sudahlah dengan untung kita, maka jadi selaku ini !”
Adapun si miskin itu, asalnya daripada raja keindraan. Maka kena sumpah Batara Indera, maka jadilah ia demikian itu. Maka adalah suaminya itu pun segarlah sedikit tubuhnya. Setelah itu, maka suaminya pun masuk ke dalam hutan mencari yang umbut yang muda, yang patut dimakannya, maka dibawanyalah kepada isterinya. Maka demikianlah laki bini.
Hatta, berapa lamanya, maka isteri si miskin itupun  hamil lah tiga bulan lamanya, maka isterinya menangis hendak makan buah mempelam yang ada di dalam taman raja itu. Maka   suaminya itupun terkenanglah untungnya, tatkala ia di keinderaan menjadi raja tiada ia mampu beranak. Maka sekarang telah mudarat, maka baharulah hendak membunuh kakandalah rupanya ini. Tidaklah tuan tahu, akan hal kita yang sudah lalu itu? Jangankan hendak meminta barang satu, hampir kepada kampung orang tiada boleh. “ Setelah didengar oleh istrinya kata suaminya demikian itu, maka makinlah sangat ia menangis. Maka kata suaminya, “ Diamlah tuan! Jangan menagis, biarlah kakanda pergi mencaharikan tuan buah mempelam. Maka si miskin it berhentilah di sana, takut ia akan dipalu orang. Maka kata orang yang berjual buah mempelam itu, “ itu jikalau ada belas dan kasihan serta rahim tuan akan hamba orang miskin; hamba ini minta diberikan yang sudah terbuang itu. Hamba hendak memohonkan buah mempelam tuan yang sudah busuk itu barang sebiji sahaja tuan.  Maka terlalu belas hati sekalian orang pasar itu yang mendengar kata si miskin itu, seperti hancurlah rasa hatinya, maka ada yang memberi  buah mempelam, ada yang memberi juadah, ada yang memberikan nasi, ada yang memberikan kain baju, ada yang memberikan buah-buahan, oleh sebab anak yang diidamkan oleh isterinya itu. Maka si miskin itu pun heranlah akan  dirinya, oleh sebab diberi orang pasar itu berbagai-bagai jenis pemberian. Adapun akan dahulunya, jangankan diberinya barang suatu, mampir pun tiada boleh, habislah di lemparnya dengan kayu dan batu.[7]
Dikutip dari: Hikayat si Miskin, Departemen pendidikan dan kebudayaan Proyot penerbit buku sastra Indonesia dan daerah, Jakarta 1981.

F.        UNSUR-UNSUR HIKAYAT
Unsur-unsur hikayat meliputi dua aspek, yaitu unsur Intrinsik dan unsur ekstrinsik
1.         Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun sebuah karya sastra dari dalam. Unsur Intrinsik hikayat meliputi tema, alur, amanat, latar cerita, penokohan, sudut pandang, dan berbagai gaya bahasa.
Plot atau alur merupakan rangkaian peristiwa yang mengandung hubungan sebab-akibat. Tema merupakan gagasan atau ide central yang menjadi pangkal tolak penyusunan karangan dan sekaligus menjadi sasaran karangan tersebut.
Penokohan berkaitan dengan sifat-sifat tokoh yang digambarkan dalam cerita oleh pengarang. Penggambaran tokoh cerita dapat menggunakan metode sebagai berikut:
a.         Metode analitik
Pengarang langsung memaparkan watak tokoh, misalnya: keras hati, keras kepala, sombong, penipu, rendah hati.
b.        Metode Dramatik
Pengarang menggambarkan watak tokoh yang tidak diceritakan secara langsung, misalnya: pilihan nama dan penggambaran melalui cakapan.
2.         Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra dari luar. Unsur ektrinsik hikayat meliputi mencari nilai-nilai sebuah hikayat, konflik cerita dikaitkan dnegan dunia nyata, mencari unsur budaya, sosial dan moral. Untuk mengetahuinya melalui observasi perbandingan dan mempelajari riwayat hidup penulis. Artinya, jika kita mau menilai sebuah karya sastra,kita juga harus mempertimbangkan konteks penulis atas karya yang dibuatnya. Apa latar belakangnya, bagaimana kehidupan sosialnya, bagaiman lokalitasnya dan sebagainya.[8]

BAB III
PENUTUP

SIMPULAN
Hikayat adalah karya sastra lama berisi cerita sejarah maupun cerita roman fiktif. Bahasanya pun kadang-kadang sulit untuk dipahami.
Adapun ciri-ciri hikayat yaitu sejarah, dongeng, cerita pelipur lara, epos, dan kitab.
Unsur-unsur hikayat ada dua aspek, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun sebuah karya sastra dari dalam. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur yang membangun sebuah karya sastra dari  luar. Kedua unsur ini selalu ada di dalam sebuah karya sastra. Keberadaannya tidak dapat dipisahkan. Kedua unsur ini pula yang biasanya digunakan untuk menelaah sastra.


[1][1] . Didik durianto:” Bahasa Indonesia”, Tanpa tahun. Halaman 8
[2] . Didik Durianto:” Bahasa Indonesia (Semester 2)”, Tanpa tahun. Halaman 20
[3] . Mahli. “ Diktat Bahasa dan sastra Indonesia”, 2007.Halaman 37
[4]  Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Kelas X. Halaman 127
[5]  Mahli. “Diktat Bahasa dan Sastra Indonesia”, 2007. Halaman 36-37
[6] Ibid. halaman 36-37.
[7] Ibid. Halaman 127-128
[8]. Opcit. Halaman 20

0 komentar:

Poskan Komentar

kuran hari ini nah

Logo Banjarmasin Post